Kebumen, Beritakami.com – Musim kemarau biasanya dimanfaatkan petani dataran rendah untuk menanam palawija seperti kacang hijau. Namun, kemarau basah yang terjadi saat ini membuat para petani di wilayah Kebumen mengalami gagal panen.
Ketua Kelompok Tani Margo Raharjo RW 1 Kelurahan Jatiluhur, Sehat Mukiyono, menjelaskan bahwa usai panen Musim Tanam (MT) 2, petani biasanya menanam atau menyebar benih kacang hijau. Hasilnya diharapkan dapat menambah penghasilan sekaligus menjadi dana tambahan untuk persiapan Musim Tanam 1.
Namun, hujan deras yang masih sering turun di musim kemarau ini justru menjadi bencana bagi tanaman kacang hijau.
“Kalau kemarau biasa, meskipun hujan, tidak terlalu sering, jadi tanaman masih bisa tumbuh. Kali ini kemarau basah, hujan terlalu sering, alhasil banyak pohon yang terendam,” kata Sehat, Minggu (24/8/2025).
Menurutnya, meskipun ada beberapa sawah yang masih bisa bertahan, mayoritas tanaman kacang hijau di wilayah Jatiluhur mati.
“Kalau sawah yang agak tinggi mungkin masih bisa hidup, tapi kalau hujan lagi kemungkinan juga akan mati,” imbuhnya.
Saat ini usia tanaman kacang hijau sudah lebih dari dua bulan, dan kurang dari satu bulan lagi seharusnya bisa dipanen. Sehat menuturkan, jika kondisi cuaca normal, setiap 100 ubin sawah bisa menghasilkan sekitar 2 kwintal kacang hijau dengan harga jual rata-rata Rp12.500 per kilogram.
“Kalau cuaca mendukung dan hasilnya baik, bisa 2 kwintal dalam seratus ubin atau setara Rp2,5 juta. Kan lumayan sekali,” jelasnya.
Dengan biaya tanam sekitar Rp100 ribu termasuk bibit dan pemupukan, menanam kacang hijau seharusnya menjadi solusi menguntungkan bagi petani. Namun, kemarau basah tahun ini justru membuat mereka merugi.